Ingin membuat aplikasi Android yang handal, mudah dipelihara, dan terstruktur rapi? Prinsip pemrograman SOLID adalah kunci untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam tutorial ini, kita akan menyelami inti dari prinsip SOLID dan melihat bagaimana penerapannya dalam pengembangan aplikasi Android.
Dari aplikasi sederhana hingga yang kompleks, prinsip-prinsip SOLID akan membantu Anda menghindari kesalahan umum dalam pemrograman dan membangun aplikasi yang lebih terstruktur dan mudah dirawat. Kita akan membahas setiap prinsip secara detail, dilengkapi contoh kode dan kasus nyata untuk mempermudah pemahaman.
Contents
Prinsip Pemrograman SOLID untuk Aplikasi Android
Pengembangan aplikasi Android yang baik dan terstruktur memerlukan pemahaman mendalam tentang prinsip-prinsip pemrograman yang handal. Prinsip SOLID, singkatan dari Single Responsibility, Open/Closed, Liskov Substitution, Interface Segregation, dan Dependency Inversion, menjadi fondasi penting untuk menciptakan aplikasi yang mudah dipelihara, di-update, dan dikembangkan. Prinsip-prinsip ini membantu mengurangi kompleksitas dan meningkatkan efisiensi dalam proses pengembangan.
Ringkasan Prinsip SOLID
Prinsip SOLID menawarkan panduan untuk membangun kode yang lebih terstruktur dan mudah dipelihara. Single Responsibility Principle (SRP) menekankan bahwa setiap class atau metode harus memiliki satu tanggung jawab utama. Open/Closed Principle (OCP) mendorong agar class atau modul dapat diperluas tanpa perlu modifikasi pada kode yang sudah ada. Liskov Substitution Principle (LSP) memastikan bahwa subclass dapat digunakan di mana pun superclass digunakan tanpa menyebabkan kesalahan.
Interface Segregation Principle (ISP) menganjurkan untuk menggunakan interface yang spesifik dan kecil daripada satu interface besar dan kompleks. Terakhir, Dependency Inversion Principle (DIP) menekankan pada bergantung pada abstraksi daripada implementasi konkret.
Pentingnya Prinsip SOLID dalam Pengembangan Android
Penerapan prinsip SOLID dalam pengembangan aplikasi Android menghasilkan berbagai keuntungan, seperti peningkatan kualitas kode, kemudahan pemeliharaan, dan fleksibilitas dalam pengembangan. Kode yang mengikuti prinsip SOLID lebih mudah dipahami, dipelihara, dan di-update oleh pengembang lain atau bahkan oleh pengembang itu sendiri di masa mendatang. Hal ini juga mempercepat proses pengembangan dan mengurangi potensi kesalahan.
Contoh Penerapan Prinsip SOLID
Bayangkan Anda sedang mengembangkan aplikasi untuk menampilkan daftar buku. Tanpa prinsip SOLID, Anda mungkin membuat satu class yang menangani semua logika, seperti menampilkan data, menyimpan data, dan menampilkan UI. Hal ini melanggar SRP. Dengan SOLID, Anda dapat memisahkan logika ke dalam class yang berbeda, seperti class untuk menampilkan data, class untuk menyimpan data, dan class untuk menampilkan UI.
Masing-masing class memiliki tanggung jawab yang spesifik dan jelas.
Perbandingan Pengembangan dengan dan Tanpa SOLID
| Metode | Keuntungan | Kerugian |
|---|---|---|
| Pengembangan tanpa SOLID | Lebih cepat dalam tahap awal pengembangan, mungkin | Kode sulit dipelihara, lebih rentan terhadap kesalahan, sulit diperluas, dan sulit untuk ditangani oleh tim besar. |
| Pengembangan dengan SOLID | Kode lebih mudah dipahami, dipelihara, dan di-update, lebih fleksibel untuk ekspansi, dan lebih mudah ditangani oleh tim besar. | Membutuhkan waktu lebih lama untuk pengembangan awal, tetapi meningkatkan efisiensi dalam jangka panjang. |
Prinsip SOLID
Membangun aplikasi Android yang handal dan mudah dipelihara membutuhkan pemahaman mendalam tentang prinsip-prinsip pemrograman yang baik. Salah satu prinsip penting yang dapat meningkatkan kualitas kode adalah prinsip SOLID. Prinsip ini menawarkan panduan untuk menulis kode yang lebih terstruktur, mudah dibaca, dan lebih mudah dipelihara dalam jangka panjang. Dengan memahami dan menerapkan prinsip SOLID, Anda dapat menciptakan aplikasi Android yang lebih stabil dan lebih tangguh.
Penjelasan Prinsip SOLID
Prinsip SOLID merupakan akronim dari lima prinsip penting dalam desain berorientasi objek. Masing-masing prinsip berkontribusi pada kualitas kode yang lebih baik. Kelima prinsip tersebut meliputi:
- Single Responsibility Principle (SRP): Suatu class hanya bertanggung jawab untuk satu tugas atau satu tanggung jawab. Dengan memisahkan tanggung jawab, class menjadi lebih fokus dan mudah diuji. Ini juga meningkatkan fleksibilitas dan memungkinkan perubahan pada satu bagian kode tanpa memengaruhi bagian lain.
- Open/Closed Principle (OCP): Class harus terbuka untuk ekstensi, tetapi tertutup untuk modifikasi. Prinsip ini memungkinkan Anda untuk menambahkan fitur baru tanpa harus mengubah kode yang sudah ada. Hal ini penting untuk menjaga stabilitas aplikasi.
- Liskov Substitution Principle (LSP): Subclasses harus dapat menggantikan base classes tanpa mengubah perilaku yang diharapkan dari klien. Dengan kata lain, objek dari subclass dapat digunakan di mana pun objek dari base class digunakan tanpa menimbulkan kesalahan.
- Interface Segregation Principle (ISP): Sebaiknya menggunakan banyak interface kecil daripada satu interface besar. Dengan memisahkan interface, Anda dapat menghindari ketergantungan pada metode yang tidak digunakan dan meningkatkan fleksibilitas.
- Dependency Inversion Principle (DIP): Ketergantungan harus pada abstraksi, bukan pada detail konkret. Prinsip ini menekankan penggunaan interface atau abstract class untuk mengurangi ketergantungan antar class dan meningkatkan kemampuan untuk mengganti class tanpa memengaruhi bagian lain.
Contoh Kode Java
Berikut contoh sederhana penerapan beberapa prinsip SOLID dalam kode Java:
Contoh SRP (Single Responsibility Principle)
// Class yang tidak mengikuti SRP
class User
void registerUser(String username, String password, String email)
// ... logic for registration ...
// ... logic for sending confirmation email ...
// Class yang mengikuti SRP
class UserRegistration
void registerUser(String username, String password)
// ...
logic for registration … class EmailService void sendConfirmationEmail(String email) // … logic for sending email …
Contoh OCP (Open/Closed Principle)
// Contoh sederhana
interface PaymentGateway
boolean processPayment(double amount);
class CreditCardPayment implements PaymentGateway
@Override
public boolean processPayment(double amount)
// ... logic for credit card payment ...
return true;
class PaypalPayment implements PaymentGateway
@Override
public boolean processPayment(double amount)
// ...
logic for paypal payment … return true;
Diagram Hubungan Prinsip SOLID
Berikut diagram sederhana yang menggambarkan hubungan antar prinsip SOLID:
- SOLID merupakan kumpulan prinsip yang saling terkait.
- Setiap prinsip berkontribusi pada kualitas kode yang lebih baik.
- Implementasi yang baik dari prinsip SOLID akan menghasilkan kode yang mudah dipelihara dan diubah.
Meningkatkan Maintainability dan Reusability Kode
Penerapan prinsip SOLID menghasilkan kode yang lebih mudah dipelihara dan dapat digunakan kembali. Dengan struktur kode yang lebih terstruktur dan fokus, pengembang dapat lebih mudah memahami, memodifikasi, dan menambahkan fitur baru tanpa memengaruhi bagian kode lainnya. Hal ini meningkatkan efisiensi pengembangan dan mengurangi kemungkinan kesalahan.
Implementasi SOLID dalam Pengembangan Aplikasi Android
Membangun aplikasi Android yang handal dan mudah dipelihara memerlukan perencanaan yang matang. Prinsip SOLID, sebuah kumpulan prinsip pemrograman berorientasi objek, dapat membantu pengembang dalam mencapai tujuan tersebut. Artikel ini akan menjelaskan bagaimana menerapkan prinsip SOLID dalam pengembangan aplikasi Android, menggunakan contoh kasus aplikasi ToDo List.
Contoh Kasus Aplikasi ToDo List
Aplikasi ToDo List sederhana memungkinkan pengguna untuk membuat, melihat, dan menghapus tugas. Aplikasi ini ideal untuk mengilustrasikan prinsip SOLID karena memungkinkan implementasi modularitas dan keterpisahan tanggung jawab yang jelas.
Merancang Arsitektur Aplikasi dengan Prinsip SOLID
Aplikasi ToDo List dirancang dengan mempertimbangkan prinsip SOLID, sehingga memungkinkan ekspansi dan pemeliharaan di masa mendatang. Arsitektur ini terdiri dari beberapa modul yang bertanggung jawab atas fungsi-fungsi spesifik, seperti pengelolaan data tugas, tampilan antarmuka pengguna, dan logika bisnis.
Contoh Kode Java untuk Implementasi SOLID
Berikut contoh kode Java yang menunjukkan implementasi prinsip SOLID pada aplikasi ToDo List:
// Interface untuk mengelola data tugas
interface TaskRepository
List<Task> getTasks();
void addTask(Task task);
void deleteTask(Task task);
// Kelas untuk representasi tugas
class Task
private String description;
// ... atribut lain
public Task(String description)
this.description = description;
// ...
getter dan setter // Implementasi TaskRepository menggunakan SQLite class SQLiteTaskRepository implements TaskRepository // … implementasi method getTasks, addTask, deleteTask menggunakan SQLite // Kelas untuk menampilkan tugas pada UI class TaskPresenter private final TaskRepository taskRepository; public TaskPresenter(TaskRepository taskRepository) this.taskRepository = taskRepository; public List<Task> getTasks() return taskRepository.getTasks(); // …
method lainnya // … Kelas lain untuk Activity dan Fragment
Contoh kode di atas menunjukkan bagaimana menggunakan interface untuk memisahkan tanggung jawab (Single Responsibility Principle). Kelas Task hanya berfokus pada representasi tugas, sementara TaskRepository bertanggung jawab atas manajemen data. Hal ini meningkatkan fleksibilitas karena kita dapat mengganti implementasi TaskRepository (misalnya, menggunakan Room atau Firebase) tanpa mengubah kode di bagian lain aplikasi.
Langkah-Langkah Penerapan Prinsip SOLID
- Identifikasi tanggung jawab: Pisahkan fungsi-fungsi aplikasi menjadi modul-modul yang memiliki tanggung jawab tunggal.
- Gunakan interface: Gunakan interface untuk mendefinisikan kontrak antara modul-modul.
- Buat kelas kecil: Buat kelas-kelas kecil yang fokus pada satu tugas.
- Hindari ketergantungan siklik: Pastikan tidak ada ketergantungan siklik antara modul.
- Gunakan Dependency Injection: Gunakan Dependency Injection untuk memisahkan tanggung jawab dan meningkatkan tesabilitas.
Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, pengembangan aplikasi Android Anda akan menjadi lebih terstruktur, mudah dipelihara, dan siap untuk diadaptasi dengan perubahan kebutuhan di masa mendatang.
Manfaat Penggunaan Prinsip SOLID
Dalam pengembangan aplikasi Android, prinsip SOLID (Single Responsibility, Open/Closed, Liskov Substitution, Interface Segregation, dan Dependency Inversion) menjadi kunci untuk menciptakan kode yang terstruktur, mudah dipelihara, dan tahan terhadap perubahan. Penggunaan prinsip-prinsip ini sangat penting untuk menghindari masalah yang mungkin timbul di masa depan, seperti kesulitan dalam pemeliharaan dan peningkatan aplikasi.
Keuntungan Menggunakan Prinsip SOLID
Prinsip SOLID menawarkan sejumlah keuntungan dalam pengembangan aplikasi Android. Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, kode menjadi lebih terstruktur, mudah dipahami, dan lebih mudah dipelihara. Ini berdampak pada peningkatan efisiensi tim pengembangan dalam jangka panjang.
- Meningkatkan Kualitas Kode: Prinsip SOLID mendorong penulisan kode yang lebih modular, terstruktur, dan terbaca. Hal ini mengurangi kompleksitas dan meningkatkan pemahaman kode oleh pengembang lain.
- Memudahkan Pemeliharaan: Kode yang mengikuti prinsip SOLID lebih mudah dimodifikasi atau diperbarui tanpa menyebabkan dampak yang tidak diinginkan pada bagian lain dari aplikasi. Perubahan pada satu bagian kode tidak akan berdampak domino ke bagian lain.
- Mengurangi Bug: Modularitas dan struktur yang jelas dalam kode yang mengikuti prinsip SOLID mengurangi potensi terjadinya bug. Kode yang lebih terstruktur lebih mudah diuji dan didiagnosis.
- Meningkatkan Kolaborasi: Kode yang terstruktur dengan baik memudahkan kolaborasi antar pengembang. Setiap pengembang dapat memahami dan bekerja dengan bagian kode yang menjadi tanggung jawabnya.
Contoh Kasus Aplikasi Tanpa Prinsip SOLID
Bayangkan aplikasi tanpa penerapan prinsip SOLID. Kode yang tercampur aduk, tidak terstruktur, dan bergantung pada satu fungsi atau kelas dapat menyebabkan kesulitan dalam pemeliharaan dan peningkatan aplikasi. Misalnya, jika ada kebutuhan untuk menambahkan fitur baru, akan sulit untuk dilakukan tanpa menyebabkan perubahan yang tidak diinginkan pada bagian lain dari aplikasi. Hal ini dapat mengakibatkan bug baru dan kesalahan yang sulit dideteksi.
Contoh Kesulitan Pemeliharaan
Aplikasi tanpa prinsip SOLID seringkali mengalami masalah saat fitur baru ditambahkan. Perubahan pada satu bagian kode dapat menyebabkan dampak yang tidak terduga pada bagian lain. Ini mengakibatkan waktu dan upaya yang signifikan untuk mendeteksi dan memperbaiki bug. Sistem pengujian juga akan menjadi lebih rumit dan memakan waktu.
Misalnya, jika ada perubahan pada database, perubahan ini akan berdampak pada banyak bagian kode yang bergantung pada database tersebut. Tanpa prinsip SOLID, pengembang harus memeriksa dan memodifikasi setiap bagian kode yang bergantung pada database, yang berpotensi menimbulkan kesalahan baru. Pengujian juga menjadi lebih rumit dan memakan waktu.
Kutipan tentang Pentingnya Prinsip SOLID
“Menggunakan prinsip SOLID sangat penting untuk mengembangkan aplikasi yang skalabel, mudah dipelihara, dan dapat dipertahankan. Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, pengembang dapat menghindari masalah yang berpotensi muncul di masa mendatang.”
(Sumber
[nama sumber terpercaya, misalnya, artikel di website pengembangan perangkat lunak ternama])
Contoh Kasus dan Studi Kasus
Mempelajari prinsip SOLID dalam pengembangan aplikasi Android tak hanya teori, tapi juga tentang bagaimana praktiknya memecahkan masalah nyata. Contoh kasus berikut akan menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip SOLID membantu dalam mengatasi kompleksitas dan meningkatkan efisiensi dalam pengembangan aplikasi Android.
Implementasi SOLID dalam Aplikasi Manajemen Tugas
Bayangkan aplikasi manajemen tugas yang kompleks, dengan berbagai fitur seperti penjadwalan, prioritas, dan kolaborasi. Tanpa SOLID, kode akan mudah menjadi berantakan dan sulit dipelihara. Dengan SOLID, aplikasi dapat dipecah menjadi modul-modul kecil yang lebih mudah dipahami dan diubah.
- Single Responsibility Principle (SRP): Fungsi untuk mengatur tugas-tugas dipisahkan dari fungsi untuk menampilkan data. Hal ini membuat kode lebih terfokus dan mudah diuji.
- Open/Closed Principle (OCP): Aplikasi dapat dengan mudah menambahkan fitur baru tanpa mengubah kode yang sudah ada. Misalnya, menambahkan fitur penambahan catatan tanpa harus merubah kode inti.
- Liskov Substitution Principle (LSP): Kelas turunan dapat digunakan di mana kelas induk diharapkan, tanpa menimbulkan kesalahan. Contohnya, kelas “Tugas” dapat diwariskan ke kelas “Tugas Prioritas Tinggi” tanpa masalah.
- Interface Segregation Principle (ISP): Antarmuka dipecah menjadi antarmuka yang lebih spesifik. Hal ini mengurangi ketergantungan antar modul dan membuat kode lebih mudah dipelihara.
- Dependency Inversion Principle (DIP): Abstraksi digunakan untuk menggantikan dependensi konkret. Contohnya, menggunakan interface untuk berinteraksi dengan database, memungkinkan penggunaan database yang berbeda tanpa mengubah kode inti.
Perbandingan Implementasi dengan dan Tanpa SOLID
| Implementasi | Tanpa SOLID | Dengan SOLID | Waktu | Debugging | Maintainability |
|---|---|---|---|---|---|
| Penambahan fitur baru | Memerlukan perubahan pada banyak bagian kode, berpotensi menciptakan bug baru. | Fitur baru dapat ditambahkan dengan mudah tanpa mengubah kode inti. | Lama | Sulit | Rendah |
| Perbaikan bug | Membutuhkan pencarian yang luas pada kode yang kompleks. | Bug dapat diatasi dengan lebih cepat dan mudah karena kode lebih terstruktur. | Lama | Sulit | Rendah |
| Pemeliharaan | Memerlukan tim yang besar untuk memahami dan memelihara kode. | Kode lebih mudah dipelajari dan dipelihara oleh satu orang atau tim kecil. | Lebih cepat | Lebih mudah | Tinggi |
Perbandingan di atas menunjukkan bahwa penggunaan prinsip SOLID secara signifikan meningkatkan efisiensi dalam pengembangan aplikasi Android. Waktu pengembangan berkurang, debugging menjadi lebih mudah, dan pemeliharaan aplikasi menjadi lebih terstruktur dan sederhana. Dengan kode yang terstruktur dengan baik, tim pengembang dapat lebih fokus pada fitur-fitur baru dan inovasi.
Kesimpulan
Setelah menelusuri prinsip-prinsip SOLID dalam pengembangan aplikasi Android, kini saatnya merangkum manfaat utama dan poin-poin pentingnya. Pemahaman mendalam akan prinsip-prinsip ini sangat krusial untuk membangun aplikasi yang lebih terstruktur, mudah dipelihara, dan skalabel di masa depan. Mari kita lihat bagaimana prinsip-prinsip ini dapat diterapkan untuk menghasilkan aplikasi Android yang lebih handal dan berkelanjutan.
Manfaat Utama Penggunaan Prinsip SOLID
Penerapan prinsip SOLID menawarkan banyak keuntungan dalam pengembangan aplikasi Android. Hal ini memungkinkan pengembang untuk menciptakan kode yang lebih terorganisir, mudah dibaca, dan dipelihara. Kode yang terstruktur dengan baik akan lebih mudah untuk di-debug, dimodifikasi, dan diperluas di masa depan.
- Meningkatkan Kualitas Kode: Prinsip SOLID mendorong pengembangan kode yang lebih modular, terstruktur, dan terbaca. Hal ini berdampak langsung pada peningkatan kualitas kode secara keseluruhan.
- Memudahkan Pemeliharaan: Kode yang mengikuti prinsip SOLID lebih mudah dipahami dan dipelihara oleh pengembang, bahkan di masa mendatang. Hal ini mengurangi waktu dan biaya pemeliharaan.
- Meningkatkan Skalabilitas: Dengan arsitektur yang lebih terstruktur, aplikasi yang dibangun dengan prinsip SOLID lebih mudah untuk diperluas dan diadaptasi dengan kebutuhan yang berkembang.
- Meminimalisir Kesalahan: Penggunaan prinsip SOLID dapat meminimalkan kesalahan dan bug yang mungkin terjadi, sehingga menghasilkan aplikasi yang lebih stabil.
- Peningkatan Kolaborasi: Kode yang terstruktur dengan baik akan memudahkan kolaborasi antar tim pengembang, karena masing-masing pengembang dapat memahami dan berkolaborasi dengan lebih mudah.
Poin-Poin Penting Prinsip SOLID
Berikut poin-poin penting terkait prinsip SOLID dan aplikasinya dalam pengembangan aplikasi Android:
- Single Responsibility Principle (SRP): Setiap class atau metode harus memiliki satu tanggung jawab utama dan spesifik. Hal ini akan membuat kode lebih mudah dipahami dan dipelihara.
- Open/Closed Principle (OCP): Aplikasi harus dapat diperluas tanpa mengubah kode yang sudah ada. Hal ini dicapai dengan penggunaan interface dan polymorphism.
- Liskov Substitution Principle (LSP): Subtypes harus dapat menggantikan typesnya tanpa mengubah perilaku aplikasi.
- Interface Segregation Principle (ISP): Jangan membuat interface yang besar dan kompleks. Pecah menjadi interface yang lebih kecil dan spesifik.
- Dependency Inversion Principle (DIP): Hindari ketergantungan langsung pada implementasi kelas. Gunakan abstraksi dan interface untuk memisahkan dependensi.
Saran untuk Pengembangan Aplikasi Android yang Lebih Baik
Berikut beberapa saran untuk pengembangan aplikasi Android yang lebih baik dengan menerapkan prinsip SOLID:
- Mulailah dari Awal: Saat memulai proyek baru, pertimbangkan untuk menerapkan prinsip SOLID sejak awal. Ini akan membantu mencegah masalah yang lebih besar di masa depan.
- Lakukan Refactoring: Jika aplikasi yang ada belum mengikuti prinsip SOLID, lakukan refactoring untuk mengadaptasinya. Meskipun memakan waktu, hal ini akan berdampak positif pada jangka panjang.
- Pelajari dan Terapkan Secara Terus-menerus: Tetap belajar dan menerapkan prinsip SOLID secara berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas dan pemeliharaan aplikasi Android.
- Dokumentasi yang Baik: Dokumentasikan kode Anda dengan baik, terutama saat menggunakan prinsip-prinsip SOLID, sehingga pengembang lain dapat memahami logika di baliknya.
- Lakukan Testing Secara Komprehensif: Lakukan testing secara komprehensif untuk memastikan aplikasi yang dibangun sesuai dengan prinsip SOLID berfungsi dengan baik dan terbebas dari bug.
Simpulan Akhir
Kesimpulannya, menerapkan prinsip SOLID dalam pengembangan aplikasi Android memberikan banyak keuntungan. Dari meningkatkan maintainability hingga mengurangi bug, SOLID membuat proses pengembangan lebih efisien dan menghasilkan aplikasi yang lebih berkualitas. Dengan pemahaman yang komprehensif dan contoh praktis, Anda siap untuk membangun aplikasi Android yang lebih baik dan lebih profesional.
Detail FAQ
Bagaimana cara memilih prinsip SOLID yang tepat untuk aplikasi saya?
Tidak ada jawaban tunggal untuk pertanyaan ini. Pemilihan prinsip SOLID yang tepat bergantung pada kompleksitas aplikasi, kebutuhan pemeliharaan, dan kebutuhan pengembangan yang akan datang. Seringkali, kombinasi beberapa prinsip akan dibutuhkan untuk menghasilkan aplikasi yang optimal.
Apa perbedaan mendasar antara pengembangan aplikasi dengan dan tanpa SOLID?
Pengembangan aplikasi tanpa SOLID cenderung menghasilkan kode yang kompleks, sulit dipelihara, dan rentan terhadap bug. Sementara itu, dengan SOLID, kode menjadi lebih terstruktur, mudah dipahami, dan lebih mudah dirawat. Hal ini berdampak pada waktu pengembangan yang lebih efisien dan pengurangan potensi bug.
Apakah prinsip SOLID hanya berlaku untuk bahasa pemrograman Java?
Tidak, prinsip SOLID berlaku untuk berbagai bahasa pemrograman berorientasi objek. Meskipun contoh kode dalam tutorial ini menggunakan Java, konsep-konsepnya dapat diterapkan pada bahasa pemrograman lain seperti Kotlin, C++, atau C#.
Bagaimana cara mengatasi masalah kompleksitas dalam pengembangan aplikasi Android menggunakan prinsip SOLID?
Prinsip SOLID membantu memecah masalah kompleks menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola. Dengan menggunakan desain yang terstruktur, kompleksitas dapat diminimalkan dan aplikasi menjadi lebih mudah dipelihara. Pengaturan yang tepat dari masing-masing prinsip akan membantu mengatasi masalah kompleksitas ini.