Dasar Bahasa Pemrograman Object-Oriented Programming (OOP)

Selamat datang di dunia pemrograman yang lebih terstruktur dan terorganisir! Dalam artikel ini, kita akan menyelami dasar-dasar Object-Oriented Programming (OOP). Metode pemrograman ini menawarkan pendekatan yang elegan dan efektif dalam membangun aplikasi yang kompleks. Bayangkan sebuah dunia di mana kode Anda lebih mudah dipahami, dipelihara, dan dikembangkan. Kita akan mulai dengan memahami inti OOP dan mengungkap rahasia di balik empat pilar utamanya.

Dari pengertian dasar OOP hingga contoh implementasi dalam kode, kita akan menjelajahi setiap langkah dengan detail. Mari kita bongkar misteri di balik konsep-konsep penting seperti encapsulation, inheritance, polymorphism, dan abstraction. Dengan pemahaman yang komprehensif, Anda akan siap untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip OOP dalam proyek pemrograman Anda.

Pengertian Object-Oriented Programming (OOP)

Dalam dunia pemrograman, Object-Oriented Programming (OOP) merupakan paradigma yang populer dan efektif dalam membangun aplikasi yang kompleks. Berbeda dengan paradigma pemrograman prosedural yang berfokus pada langkah-langkah, OOP berfokus pada objek-objek yang berisi data dan metode untuk memanipulasi data tersebut. Ini membuat kode lebih terstruktur, mudah dipelihara, dan dapat digunakan kembali.

Perbedaan OOP dengan Paradigma Pemrograman Lain

OOP memiliki karakteristik yang membedakannya dengan paradigma pemrograman lain, seperti prosedural. Paradigma prosedural berfokus pada urutan langkah-langkah atau prosedur untuk menyelesaikan suatu tugas. Sementara itu, OOP berfokus pada objek-objek yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan yang sama. Perbedaan ini berdampak pada cara kita mengorganisir dan memanipulasi data dalam program.

Paradigma Prinsip Utama Fokus Contoh Bahasa
Prosedural Urutan langkah-langkah (prosedur) Alur kerja dan fungsi Pascal, Fortran
Object-Oriented Objek, kelas, enkapsulasi, warisan, polimorfisme Objek dan interaksi antar objek Java, Python, C++

Empat Pilar Utama OOP

Empat pilar utama OOP yang menjadikannya efektif adalah enkapsulasi, pewarisan, polimorfisme, dan abstraksi. Keempat pilar ini bekerja sama untuk menciptakan kode yang terstruktur, fleksibel, dan mudah dipahami.

  • Enkapsulasi: Merupakan proses menyembunyikan data dan metode di dalam objek. Hal ini meningkatkan keamanan dan menjaga integritas data. Dengan menyembunyikan detail implementasi, kita dapat mengubahnya tanpa memengaruhi bagian lain dari program.
  • Pewarisan (Inheritance): Memungkinkan suatu kelas untuk mewarisi atribut dan metode dari kelas lain. Hal ini mempermudah pengembangan dan mengurangi pengulangan kode. Misalnya, kelas “Mobil” dapat mewarisi atribut dan metode dari kelas “Kendaraan”.
  • Polimorfisme: Kemampuan suatu objek untuk mengambil berbagai bentuk. Ini memungkinkan kita untuk menggunakan metode yang sama dengan objek yang berbeda, tanpa perlu mengetahui jenis objek secara spesifik. Misalnya, metode “mulai” dapat digunakan pada objek “Mobil” dan “Motor” dengan cara yang berbeda.
  • Abstraksi: Proses menyembunyikan detail kompleks dari suatu objek dan hanya menampilkan informasi yang relevan. Abstraksi membuat kode lebih mudah dipahami dan dipelihara.

Ilustrasi Enkapsulasi

Enkapsulasi dapat diilustrasikan dengan sebuah kapsul obat. Kapsul tersebut menyembunyikan kandungan obat di dalamnya. Pengguna hanya perlu mengetahui cara menggunakan kapsul, tanpa perlu mengetahui detail bahan kimia yang ada di dalamnya. Sama halnya dengan enkapsulasi dalam OOP, data dan metode di dalam objek disembunyikan, dan hanya bagian-bagian yang relevan yang ditampilkan.

Misalnya, kita memiliki objek “Mobil”. Data seperti kecepatan, warna, dan model disembunyikan di dalam objek tersebut. Metode seperti “mulai” dan “berhenti” disediakan untuk berinteraksi dengan objek tanpa perlu mengetahui detail implementasinya.

Konsep Dasar Objek dan Kelas

Dalam pemrograman berorientasi objek (OOP), memahami konsep objek dan kelas sangat fundamental. Objek adalah representasi nyata dari suatu entitas, sementara kelas adalah blueprint atau template yang mendefinisikan karakteristik dan perilaku objek. Memahami perbedaan dan hubungan keduanya akan memudahkan dalam membangun aplikasi yang terstruktur dan mudah dipelihara.

Perbedaan Objek dan Kelas

Objek dan kelas memiliki hubungan yang erat. Kelas bertindak sebagai cetakan atau pola untuk membuat objek. Kelas mendefinisikan tipe data dan perilaku yang dimiliki oleh objek-objek yang dibuat darinya. Objek, di sisi lain, adalah instance konkret dari kelas. Setiap objek memiliki data unik (atribut) dan dapat melakukan tindakan tertentu (method) sesuai dengan definisi di kelasnya.

Bayangkan kelas sebagai resep masakan dan objek sebagai makanan yang dihasilkan dari resep tersebut. Resep (kelas) menentukan bahan-bahan dan langkah-langkah memasak, sedangkan makanan (objek) adalah hasil akhir dari proses memasak sesuai resep.

Contoh Objek dan Kelas dalam Python

Berikut contoh sederhana objek dan kelas dalam bahasa pemrograman Python:


class Mobil:
  def __init__(self, merek, warna, tahun):
    self.merek = merek
    self.warna = warna
    self.tahun = tahun

  def info(self):
    print(f"Merek: self.merek, Warna: self.warna, Tahun: self.tahun")

# Membuat objek dari kelas Mobil
mobil1 = Mobil("Toyota", "Merah", 2023)
mobil2 = Mobil("Honda", "Biru", 2022)

# Memanggil method info pada objek mobil1 dan mobil2
mobil1.info()
mobil2.info()

Pada contoh ini, Mobil adalah kelas yang mendefinisikan atribut ( merekwarnatahun) dan method ( info) untuk objek mobil. mobil1 dan mobil2 adalah objek yang dibuat dari kelas Mobil, masing-masing dengan atribut yang berbeda. Method info() digunakan untuk menampilkan informasi tentang mobil tersebut.

Langkah-Langkah Mendefinisikan Kelas dan Objek

  1. Definisi Kelas: Tentukan blueprint atau template dengan nama kelas. Di dalam kelas, definisikan atribut (data) dan method (fungsi) yang akan dimiliki oleh objek yang dihasilkannya. Contoh: class Mobil:
  2. Metode Inisialisasi (`__init__`): Metode khusus yang otomatis dipanggil saat objek dibuat. Metode ini digunakan untuk menginisialisasi atribut objek. Contoh: def __init__(self, merek, warna, tahun):
  3. Definisi Method: Tentukan fungsi-fungsi (method) yang akan dilakukan oleh objek. Contoh: def info(self):
  4. Instansiasi Objek: Buat objek konkret dari kelas yang telah didefinisikan. Objek dibuat dengan menggunakan nama kelas diikuti tanda kurung dan nilai-nilai atribut yang dibutuhkan. Contoh: mobil1 = Mobil("Toyota", "Merah", 2023)
  5. Penggunaan Objek: Panggil method yang telah didefinisikan pada objek yang sudah dibuat. Contoh: mobil1.info()

Encapsulation

Encapsulation adalah prinsip penting dalam pemrograman berorientasi objek (OOP). Ia memungkinkan kita untuk menyembunyikan detail implementasi dari suatu kelas dan hanya memperlihatkan antarmuka yang dibutuhkan oleh pengguna. Dengan demikian, kode menjadi lebih terstruktur, mudah dipahami, dan lebih aman.

Penjelasan Prinsip Encapsulation

Encapsulation dalam OOP berarti membungkus data dan metode yang bekerja pada data tersebut ke dalam sebuah unit yang disebut kelas. Hal ini memungkinkan kontrol atas bagaimana data diakses dan dimodifikasi. Data (variabel) biasanya dideklarasikan sebagai private, dan metode (fungsi) untuk mengakses dan memanipulasi data dideklarasikan sebagai public atau protected. Penggunaan access modifiers (seperti privatepublic, dan protected) sangat penting untuk mengontrol akses ke data dan metode.

Contoh Implementasi Encapsulation

Berikut contoh implementasi encapsulation dalam bahasa pemrograman Java:


class Mobil 
  // Data private
  private String merk;
  private int tahun;

  // Konstruktor
  public Mobil(String merk, int tahun) 
    this.merk = merk;
    this.tahun = tahun;
  

  // Method public untuk mengakses data
  public String getMerk() 
    return merk;
  

  public int getTahun() 
    return tahun;
  

  // Method public untuk mengubah data (setter)
  public void setMerk(String merk) 
    this.merk = merk;
  

Pada contoh ini, data merk dan tahun dideklarasikan sebagai private. Untuk mengakses atau memodifikasi data tersebut, kita harus menggunakan metode getMerk()getTahun(), dan setMerk(). Ini mencegah akses langsung ke data dari luar kelas Mobil.

Manfaat Encapsulation

  • Meningkatkan Keamanan Data: Dengan menyembunyikan data internal, kita mencegah akses dan modifikasi yang tidak sah dari luar kelas.
  • Meningkatkan Fleksibilitas: Perubahan pada implementasi internal kelas tidak akan memengaruhi kode yang menggunakan kelas tersebut, selama antarmuka tetap sama.
  • Meningkatkan Pemeliharaan: Kode yang terstruktur dengan baik dan terenkapsulasi lebih mudah dipahami dan dipelihara.
  • Meningkatkan Modularitas: Encapsulation memungkinkan kita untuk menggabungkan kode yang terkait dalam sebuah kelas, sehingga kode menjadi lebih mudah diorganisir dan digunakan.

Perbandingan Kelas dengan dan tanpa Encapsulation

Kode dengan Encapsulation Kode tanpa Encapsulation Deskripsi Perbedaan

          class Mobil 
            private String merk;
            // ... (kode lainnya)
          
        

          class Mobil 
            String merk;
            // ... (kode lainnya)
          
        
Kode dengan encapsulation menyembunyikan variabel merk, sementara kode tanpa encapsulation tidak. Akses langsung ke variabel merk dalam kode tanpa encapsulation berpotensi menyebabkan kesalahan.

Encapsulation dan Modularitas

Encapsulation sangat mendukung modularitas dalam pemrograman. Dengan membungkus data dan metode yang terkait, kita dapat menciptakan modul-modul kecil yang independen dan dapat digunakan kembali. Modul-modul ini dapat dikombinasikan untuk membentuk sistem yang lebih besar dan kompleks, dengan kode yang lebih terorganisir dan mudah dipelihara.

Inheritance

Inheritance, atau pewarisan, merupakan konsep penting dalam pemrograman berorientasi objek (OOP). Konsep ini memungkinkan Anda untuk menciptakan kelas baru (kelas turunan) yang didasarkan pada kelas yang sudah ada (kelas dasar). Kelas turunan akan mewarisi atribut dan metode dari kelas dasar, sehingga mengurangi pengulangan kode dan meningkatkan struktur program.

Konsep Inheritance

Inheritance memungkinkan penghematan kode dengan memanfaatkan kembali kode yang telah ditulis sebelumnya. Kelas turunan dapat menambahkan atau memodifikasi atribut dan metode yang diwarisi dari kelas dasar, menyesuaikannya dengan kebutuhan spesifik. Hal ini membuat kode lebih terstruktur dan mudah dipelihara.

Contoh Implementasi Inheritance

Berikut contoh kode sederhana dalam bahasa pemrograman Python yang menunjukkan implementasi inheritance:

class Hewan:
    def __init__(self, nama):
        self.nama = nama

    def suara(self):
        print("Suara Hewan")

class Kucing(Hewan):
    def __init__(self, nama, warna):
        super().__init__(nama)  # Memanggil konstruktor kelas dasar
        self.warna = warna

    def suara(self):
        print("Meong")

kucing = Kucing("Whiskers", "Orange")
kucing.suara()  # Output: Meong
print(kucing.nama) # Output: Whiskers

Dalam contoh ini, Kucing adalah kelas turunan dari Hewan.

Kucing mewarisi atribut nama dari Hewan dan menambahkan atribut warna. Metode suara didefinisikan ulang di kelas Kucing, memberikan perilaku khusus untuk kucing.

Jenis-Jenis Inheritance

Inheritance memiliki beberapa jenis, yang masing-masing memiliki karakteristik unik:

  • Single Inheritance: Kelas turunan hanya mewarisi dari satu kelas dasar.
  • Multiple Inheritance: Kelas turunan mewarisi dari lebih dari satu kelas dasar.
  • Hierarchical Inheritance: Beberapa kelas turunan mewarisi dari satu kelas dasar.

Langkah-Langkah Membuat Class Turunan

  1. Identifikasi kelas dasar yang akan diwarisi.
  2. Buat kelas turunan dengan sintaks yang sesuai (misalnya, class NamaKelasTurunan(NamaKelasDasar):).
  3. Definisi konstruktor di kelas turunan bisa memanggil konstruktor kelas dasar (menggunakan super()).
  4. Tambahkan atribut atau metode baru sesuai kebutuhan.
  5. Tentukan kembali metode yang ingin dimodifikasi.

Pengurangan Pengulangan Kode

Inheritance mengurangi pengulangan kode dengan memungkinkan reuse atribut dan metode dari kelas dasar. Hal ini membuat kode lebih terstruktur, mudah dibaca, dan dipelihara, sehingga lebih efisien.

Polymorphism dalam Pemrograman Berorientasi Objek

Polymorphism, dalam bahasa Yunani, berarti “banyak bentuk”. Konsep ini sangat penting dalam pemrograman berorientasi objek (OOP) karena memungkinkan objek untuk mengambil berbagai bentuk dan berperilaku berbeda sesuai dengan konteksnya. Ini membuat kode lebih fleksibel dan mudah dipelihara.

Konsep Polymorphism

Polymorphism memungkinkan objek dari kelas yang berbeda untuk merespons metode dengan nama yang sama dengan cara yang berbeda. Ini memberikan fleksibilitas dalam menangani berbagai jenis objek secara seragam. Bayangkan Anda memiliki berbagai jenis hewan (anjing, kucing, burung). Meskipun semuanya memiliki metode “suara”, cara mereka mengeluarkan suara berbeda. Polymorphism memungkinkan Anda untuk memanggil metode “suara” pada semua hewan tanpa perlu mengetahui jenis hewan secara spesifik.

Implementasi Polymorphism

Contoh implementasi polymorphism dalam bahasa pemrograman (misalnya, Java) melibatkan penggunaan metode-metode yang dapat ditimpa (overridden) dan dibebani (overloaded). Berikut contoh sederhana:

“`javaclass Hewan public void suara() System.out.println(“Suara hewan”); class Anjing extends Hewan @Override public void suara() System.out.println(“Gonggong”); class Kucing extends Hewan @Override public void suara() System.out.println(“Meong”); public class PolymorphismContoh public static void main(String[] args) Hewan hewan1 = new Anjing(); Hewan hewan2 = new Kucing(); hewan1.suara(); // Output: Gonggong hewan2.suara(); // Output: Meong “`

Jenis-jenis Polymorphism

Ada dua jenis utama polymorphism yang sering digunakan: method overloading dan method overriding.

  • Method Overloading: Memungkinkan beberapa metode memiliki nama yang sama dalam satu kelas, tetapi dengan parameter yang berbeda. Ini memungkinkan Anda untuk melakukan operasi yang serupa dengan input yang berbeda. Contoh: sebuah metode penjumlahan bisa menerima dua integer, atau dua double.
  • Method Overriding: Memungkinkan sebuah kelas turunan untuk mendefinisikan ulang metode yang sudah ada di kelas induknya. Ini memungkinkan kelas turunan untuk berperilaku berbeda dari kelas induknya, sambil mempertahankan nama metode yang sama. Contoh: dalam contoh hewan di atas, kelas `Anjing` dan `Kucing` meng-override metode `suara` dari kelas induk `Hewan`.

Perbandingan Method Overloading dan Method Overriding

Jenis Polymorphism Definisi Contoh Kode (Java)
Method Overloading Metode dengan nama yang sama, tetapi dengan jumlah atau tipe parameter yang berbeda. class Matematika int tambah(int a, int b) return a + b; double tambah(double a, double b) return a + b;
Method Overriding Metode dengan nama dan parameter yang sama dengan metode di kelas induk, tetapi dengan implementasi yang berbeda di kelas turunan. class Hewan void suara() System.out.println("Suara hewan"); class Anjing extends Hewan @Override void suara() System.out.println("Gonggong");

Manfaat dan Keuntungan Polymorphism

Polymorphism meningkatkan fleksibilitas, reusability, dan maintainability kode. Dengan polymorphism, Anda dapat menulis kode yang lebih umum dan mudah dipelihara, karena tidak perlu menulis kode terpisah untuk setiap jenis objek. Ini juga memungkinkan Anda untuk memperluas fungsionalitas program tanpa mengubah kode yang sudah ada. Misalnya, menambahkan jenis hewan baru ke program di atas hanya membutuhkan membuat kelas baru yang mewarisi dari kelas `Hewan` dan meng-override metode `suara`.

Abstraction dalam Pemrograman Berorientasi Objek

Abstraction merupakan konsep penting dalam pemrograman berorientasi objek (OOP). Konsep ini memungkinkan pengembang untuk menyembunyikan detail implementasi yang kompleks dari pengguna, sehingga fokus pada fungsionalitas inti. Dengan demikian, kode menjadi lebih mudah dipahami, dipelihara, dan dimodifikasi.

Penjelasan Konsep Abstraction

Abstraction dalam OOP memungkinkan kita untuk bekerja dengan objek tanpa perlu mengetahui detail internalnya. Ini seperti menggunakan remote TV; kita hanya perlu menekan tombol, tanpa perlu tahu bagaimana rangkaian elektronik di dalam remote bekerja. Hal ini meningkatkan efisiensi dan kemudahan penggunaan kode.

Contoh Implementasi Abstraction

Misalnya, kita memiliki sebuah kelas “Mobil”. Abstraction memungkinkan kita untuk menyembunyikan detail teknis seperti cara mesin bekerja, sistem transmisi, dan lain-lain. Yang kita lihat hanyalah metode-metode seperti “start()”, “stop()”, dan “accelerate()”. Pengguna tidak perlu tahu bagaimana detail implementasi dari metode-metode tersebut.


class Mobil 
  public function start() 
    // Kode untuk menghidupkan mesin (detail implementasi disembunyikan)
  

  public function stop() 
    // Kode untuk mematikan mesin (detail implementasi disembunyikan)
  

  public function accelerate($kecepatan) 
    // Kode untuk mempercepat mobil (detail implementasi disembunyikan)
  

Diagram Konsep Abstraction

Diagram berikut menggambarkan konsep abstraction dengan sebuah contoh kelas “Hewan”. Kelas “Hewan” memiliki metode abstrak “suara()” yang diimplementasikan secara berbeda di kelas turunannya, seperti “Anjing” dan “Kucing”.

(Diagram disajikan sebagai deskripsi teks, tanpa tag gambar). Diagram akan menampilkan kotak untuk kelas “Hewan” dan anak panah menuju kelas “Anjing” dan “Kucing”. Kotak-kotak tersebut akan berisi metode “suara()” yang ditandai dengan kata kunci “abstract”. Kelas “Anjing” dan “Kucing” akan memiliki implementasi spesifik untuk metode “suara()” di dalam kotak masing-masing.

Manfaat Abstraction dalam Mengurangi Kompleksitas Kode

  • Meningkatkan Kejelasan: Abstraction menyederhanakan kode dengan menyembunyikan detail implementasi yang rumit. Hal ini membuat kode lebih mudah dibaca dan dipahami oleh pengembang lain.
  • Memudahkan Pemeliharaan: Jika ada perubahan pada detail implementasi, pengembang hanya perlu mengubah kode di dalam kelas yang relevan. Hal ini tidak akan memengaruhi bagian kode lain yang menggunakan abstraksi tersebut.
  • Meningkatkan Reusability: Abstraction memungkinkan penggunaan kembali kode dengan mudah. Kelas abstrak dapat digunakan sebagai dasar untuk kelas-kelas turunan tanpa perlu mengetahui detail implementasinya.

Abstraction Menyembunyikan Detail Implementasi

Abstraction menyembunyikan detail implementasi dengan menggunakan metode-metode publik yang terdefinisi dengan baik. Pengguna tidak perlu mengetahui bagaimana metode-metode tersebut diimplementasikan di dalam kelas. Ini memungkinkan perubahan pada detail implementasi tanpa memengaruhi kode yang mengakses kelas tersebut.

Contoh Kasus Sederhana OOP

Memahami konsep OOP lewat contoh kasus akan mempermudah pemahaman. Mari kita lihat bagaimana prinsip OOP diterapkan dalam manajemen data produk.

Contoh Kasus Manajemen Data Produk

Berikut contoh kasus sederhana manajemen data produk yang menerapkan prinsip OOP. Contoh ini akan menunjukkan bagaimana kelas dan objek digunakan untuk mengelola data produk, termasuk atribut dan metode yang relevan.

Diagram Kelas

Diagram kelas berikut menggambarkan hubungan antar kelas dalam sistem manajemen data produk.

Nama Kelas Atribut Metode
Produk Nama, Deskripsi, Harga, Stok tampilkanDetail, updateStok, hapusProduk
Kategori Nama, Deskripsi tampilkanKategori, tambahKategori

Kode Program (Python)

Berikut kode Python untuk implementasi kelas Produk dan Kategori.


class Produk:
    def __init__(self, nama, deskripsi, harga, stok):
        self.nama = nama
        self.deskripsi = deskripsi
        self.harga = harga
        self.stok = stok

    def tampilkanDetail(self):
        print(f"Nama: self.nama, Deskripsi: self.deskripsi, Harga: self.harga, Stok: self.stok")

    def updateStok(self, jumlah):
        self.stok += jumlah

    def hapusProduk(self):
        self.nama = None
        self.deskripsi = None
        self.harga = None
        self.stok = None

class Kategori:
    def __init__(self, nama, deskripsi):
        self.nama = nama
        self.deskripsi = deskripsi

    def tampilkanKategori(self):
        print(f"Kategori: self.nama, Deskripsi: self.deskripsi")

    def tambahKategori(self, kategoriBaru):
        print(f"Kategori kategoriBaru berhasil ditambahkan.")


# Contoh penggunaan
produk1 = Produk("Baju", "Baju lengan panjang", 100000, 10)
produk1.tampilkanDetail()
produk1.updateStok(5)
produk1.tampilkanDetail()
produk1.hapusProduk()

kategori1 = Kategori("Pakaian", "Berbagai macam pakaian")
kategori1.tampilkanKategori()
kategori1.tambahKategori("Sepatu")

Penjelasan Alur Kerja

Kode di atas mendemonstrasikan bagaimana objek Produk dan Kategori diinstansiasi. Metode-metode seperti tampilkanDetailupdateStok, dan hapusProduk digunakan untuk berinteraksi dengan objek produk. Kelas Kategori memungkinkan manajemen kategori produk. Contoh penggunaan memperlihatkan bagaimana objek-objek tersebut digunakan dalam program.

Kesimpulan Akhir

Dalam perjalanan kita menjelajahi dasar-dasar OOP, kita telah menemukan fondasi penting untuk membangun aplikasi yang terstruktur dan mudah dipelihara. Dengan memahami konsep-konsep inti seperti encapsulation, inheritance, polymorphism, dan abstraction, Anda dapat mengoptimalkan proses pengembangan perangkat lunak Anda. Semoga artikel ini memberikan gambaran yang jelas dan memandu Anda dalam menguasai teknik-teknik pemrograman modern. Selamat berkreasi!

FAQ Terpadu

Apakah perbedaan utama antara OOP dan pemrograman prosedural?

OOP berfokus pada objek yang berisi data dan metode untuk memanipulasi data tersebut, sementara pemrograman prosedural berfokus pada urutan langkah-langkah untuk menyelesaikan tugas.

Bagaimana cara memilih bahasa pemrograman yang tepat untuk OOP?

Pilihan bahasa pemrograman tergantung pada kebutuhan proyek dan preferensi pribadi. Beberapa bahasa yang populer untuk OOP antara lain Java, Python, C++, dan C#.

Apa saja contoh kasus dunia nyata yang menggunakan OOP?

Aplikasi manajemen data, game, sistem operasi, dan banyak aplikasi lainnya memanfaatkan prinsip-prinsip OOP untuk strukturnya yang terorganisir.

Apakah OOP selalu lebih baik daripada paradigma pemrograman lain?

Tidak, pemilihan paradigma tergantung pada kebutuhan proyek. Terkadang paradigma prosedural atau fungsional lebih sesuai.